Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Sejarah Pergerakan Indonesia Menuju Kemerdekaan

BHINNEKASHUTTLE.COM – Jakarta sebagai Ibu Kota dan tonggak kemerdekaan Indonesia tak pernah ada habisnya menyimpan kisah kisah di balik nama besar nya. Tak kurang dari 5 museum nasional pun terdapat di Ibu Kota. salah satu yang jarang terdengar adalah Museum kebangkitan bangsa yang terletak di jalan Abdul Rahman Saleh No.26 tak jauh dari Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Tak banyak yang tahu di daerah tersebut memiliki museum yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia, entah karena minimnya informasi atau karena minimnya publikasi yang di berikan dinas pariwisata DKI Jakarta. Museum ini menempati bekas degung STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten). Seperti di ketahui menurut catatan sejarah, STOVIA adalah sebuah sekolah kedokteran yang diperuntukan bagi pelajar pribumi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Namun STOVIA kemudian dipindahkan ke Jl. Salemba No. 6 pada tahun 1920, dan lima tahun kemudian gedung bekas STOVIA ini digunakan untuk MULO (setara dengan SMP), AMS (setara dengan SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker.

Patung R. Soetomo di dekat pintu masuk museum arah ke sebelah kiri. Soetomo lahir di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur pada 30 Juli 1888, dan lulus STOVIA pada 11 April 1911. Ia adalah salah satu pendiri dan ketua pertama Boedi Oetomo, organisasi pemuda modern pertama di Indonesia yang berdiri pada 20 Mei 1908. Tanggal itu kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi sejarah perjuangan bangsa Indonesisa dalam mengusir penjajah pada masanya. Tak hanya itu saja, didalam museum ini juga terdapat patung Ki Hajar Dewantara yang kita ketahui bersama adalah seorang bapak pendidikan Indonesia. Dedikasinya yang tinggi akan pendidikan di Indonesia menjadikan hari lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Sejarah mencatatkan, penjajah datang di Indonesia karena negar kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa besar. Hal tersebut digambarkan dengan koleksi rempah rempah yang terdapat di etalase sejarah kebangkitn nasional.

Museum Kebangkitan Nasional Jakarta menyimpan salinan lukisan tua yang menggambarkan tentara Pangeran Diponegoro yang tengah melakukan latihan perang. Perang Diponegoro adalah perang terbesar di Jawa yang berlangsung di hampir seluruh wilayah, sehingga disebut juga Perang Jawa. Perang tahun 1825-1830 itu menelan korban 200.000 jiwa rakyat Jawa, 7.000 pribumi lain, dan 8.000 serdadu Belanda.

Penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1830 mengakhiri Perang Jawa. Sang pangeran dibuang ke Manado, lalu dipindahkan ke Fort Rotterdam. Makam Pangeran Diponegoro karenanya ada di Makassar. Yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa keturunan Diponegoro dilarang masuk ke Keraton Yogyakarta karena dianggap keturunan pemberontak, sampai Sri Sultan Hamengkubuwono IX mencabut larangan itu.

Tak hanya itu saja, didalam Museum Kebangkitan Nasional ini juga menyimpan diorama Raden Ajeng Kartini yangsedang mengawasi murid muridnya yang belajar di pendopo rumah ayahanda nya di Jepara. Kartini adalah gambaran kebangkitan emansipasi perempuan Indonesia. Hal tersebut menjadikan tnggal lahirnya 21 April sebagai Hari Kartini.

Selain RA Kartini, Museum Kebangkitan Nasional juga memiliki koleksi patung Maria Josephine Catherine Maramis (1872 – 1924) atau Maria Walanda Maramis. Ia adalah seorang pahlawan dari Minahasa, Sulawesi Utara yang gigih mendidik wanita Indonesia. Maria Walanda Maramis selalu menanamkan jiwa kebangsaan dan menganjurkan murid-muridnya untuk memakai pakaian nasional.

Sebuah kelas di jaman STOVIA bisa dilihat di sayap kanan Museum Kebangkitan Nasional. Ada pula foto Raden Mas Tjipto Adi Suryo yang dikenal sebagai jurnalis pelopor bagi pers Indonesia. Pramudya Ananta Toer, terinspirasi oleh RM Tjipto Adi Suryo, membangun cerita dalam karya terkenalnya Buru Kuartet di sekitar tokoh ini.

Gedung Museum kebangkitan Nasional ini luasnya tak kurang dari 5.000 m2 dengan luas tanah mencapai 14.625m2. Tempat ini bisa Kamu jadikan salah satu destinasi berlibur singkat. Selain mendapatkan ilmu, tentu saja obyek wisata ini sangat murah di kantong.

Museum Kebangkitan Nasional Jakarta

Alamat: Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, Jakarta Pusat.
Harga tiket masuk Rp.1.000 per orang. Selasa – Jumat: 08.30 – 15.00.
Jam buka Sabtu – Minggu: 08.00 – 14.00.
Tutup setiap Senin dan Hari Libur Nasional.

Untuk Kamu yang tinggal di luar Kota Jakarta, tak perlu kawatir, Kamu bisa menggunakan Shuttle yang melayani Jurusan Bandung – Jakarta maupun Shuttle Jurusan Cirebon – Jakarta. Yuk ikut lestarikan sejarah nasional dengan berkunjung ke Museum!

Article by Transmania.id